3 Tokoh Lirboyo beserta Menantu dan Anak Cucunya

| Aplikasi | Buku | Modding | Pendidikan | Teknologi | Tips dan Trik | Tutorial |.

Asror eL-RomLy (Buya Gembel)

| Aplikasi | Buku | Modding | Pendidikan | Teknologi | Tips dan Trik | Tutorial |.

Gedung Al-Hasan Pon.Pes. Al-Hikmah 02

| Aplikasi | Buku | Modding | Pendidikan | Teknologi | Tips dan Trik | Tutorial |.

KH.Masruri A.Mughni (Pengasuh Pon. Pes. Al-Hikmah 02)

| Aplikasi | Buku | Modding | Pendidikan | Teknologi | Tips dan Trik | Tutorial |.

Masjid An-Nuur Pon.Pes. Al-Hikmah 02

| Aplikasi | Buku | Modding | Pendidikan | Teknologi | Tips dan Trik | Tutorial |.

Marilah dirikan Sholat dan Menuju Kemenangan

| Aplikasi | Buku | Modding | Pendidikan | Teknologi | Tips dan Trik | Tutorial |.

Acong Is Death (Gembel Arab)

| Aplikasi | Buku | Modding | Pendidikan | Teknologi | Tips dan Trik | Tutorial |.

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Tuesday, 3 April 2018

Sejarah Singkat Berdirinya Pon. Pes. Ma’hadut Tholabah Babakan Lebaksiu Tegal

Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah Babakan didirikan secara resmi pada tahun 1916 M/ 1336 H. oleh K.H. Mufti bin Salim bin Abdur Rahman, seorang ulama asal Desa Balapulang Kabupaten Tegal. Beliau diambil menantu oleh K. Sulaiman, seorang bekel (Kepala Desa) Jatimulya yang dikenal kaya raya diwilayah Kecamatan Lebaksiu saat itu.
KH. Mufti Bin Salim Bin Abdur Rahman, telah mulai merintis kegitan pesantren ini sejak tahun 1913 M, yakni dengan membuka kegiatan pengajian umum di Mesjid Jami dukuh Babakan yang diikuti oleh 12 orang dari lingkungan Babakan.
Ketika kegiatan sudah berjalan 2 tahun,dan peserta pngajian mulai bertambah banyak, maka pada tahun 1916 M. Beliau mulai mengembangkan kegiatan keagamaanya,dengan membangun sebuah musholah di ujung selatan pedukuhan Babakan yang merupakan sentral seluruh kegiatan keagamaan yang di pimpin oleh beliau.Sedangkan para peserta pengajianyang berminat untuk bermukim, mereka membangun sendiri tempat pemukiman sejumlah 4 kamar yang masing-masing berukuran 3 X 4 X 1 M2,dengan lokasi di sebelah selatan Mushola.
Sejak saat itulah tempat aktivitas keagamaan ini dikenal dan di kukuhkan sebagai Pondok Pesantren Ma`hadut Tholabah.

Periodisasi Kepengurusan Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah
Sejak masa berdirinya ( 1916 M.), Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah telah mengalami 5 periode kepemimpinan sebagai berikut ;

1) Periode I ( Tahun 1916 – 1935 M. )
Pengasuh : K.H. Mufti bin Salim (Pendiri)
Dibantu Oleh : KH. Sulaiman ( Mertua )
K.H. Abdurrohim ( Ipar )
K.H. Anwar ( Ipar )
Ny. Hj. Fatimah ( Istri )

2) Periode II ( Tahun 1935 – 1947 M.)
Pembina /Penasehat : Ny. Hj. Fatimah ( Ibu )
Pengasuh : K.H. Ma’sum Mufti (Anak I)
Wakil : K.H. M. Syafi’i Mufti ( Anak II )
Dibantu Oleh : K.H. Abdur Rohim (Pak De )
K.H. Dahlan Anwar ( Ipar )

3) Periode III ( Tahun 1947 – 1982 M. )
Pembina /Penasehat      Ny. Hj. Fatimah ( Ibu )
Pengasuh                      K.H. Isa Mufti (Anak III)
Dibantu Adik-adiknya : Ny.Hj. Khoiriyah Mufti (Anak IV)
K.H. Abdul Malik Mufti (Anak V)
K.H. Baidlowi Mufti (Anak VIII)
Ny. Hj. Mutimah Mufti (Anak IX)
K.H. Khozin Mufti (Anak X)
K.H. Sofwan Mufti (Anak XI)
Para menantu K.H. Mufti.
Pada periode III ini Ny. Hj. Fatimah ( Ibu ) bertindak selaku Pembina Pondok Pesantren, dan sekaligus menangani secara khusus pengelolaan Pondok Pesantren Putri sampai dengan Bliau wafat tahun 1977 M. Untuk selanjutnya Pondok Pesantren Putri dipimpin oleh Ny. Hj. Khoiriyah Mufti yang berlangsung sampai dengan tahun 1990 M.

Sedangkan untuk pengelolaan Madrasah Diniyah khusus diserahkan pada :
1. KH. Abdul Malik Mufti :
Pimpinan Madrasah Diniyah Putra tingkat dasar ( Ibtidaiyah 6 Tahun )
2. KH. Baidlowi Mufti :
Pimpinan Madrasah Diniyah Putra tingkat menengah ( Tsanawiyah )
3. Ny. Hj. Mundiroh ( Istri KH. Isa Mufti ) :
Pimpinan Madrasah Diniyah Putri ( Al Banat )

4) Periode IV ( Tahun 1982 – 2000 M.)
Pengasuh          : K.H. Abdul Malik Mufti
Pengasuh Putri  : Ny.Hj. Khoriyah Mufti

Pada periode ini Pondok Pesantren Putri masih dikelola oleh Ny. Hj. Khoiriyah Mufti sampai dengan tahun 1990, dan dilanjutkan oleh adiknya yaitu Ny. Hj.Mutimah Mufti sampai dengan wafatnya pada tahun 1995.
Sepeninggal Ny. Hj. Mutimah Muft, Tim Formatur Pondok Pesantren menunjuk 3 Orang Menantu KH. Mufti, sebagai Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Putri, yang masing masing mempunyai otoritas dan kewenangan yang sama yaitu
1). Ny Hj Saeroroh Masykuri ( Istri Alm. KH Abdul Malik Mufti )
2). Ny Hj Masyfu’ ah Dahlan (Istri Alm. KH Baedlowi Mufti )
3). Ny Hj Masruroh Masyhudi ( Istri Alm. KH. Sofwan Mufti )

5) Periode V ( tahun 2000 – Sekarang )
Pada pride ini,pondok pesantren dikelola secara kolektif oleh generasi ke tiga (kurun cucu), karena generasi ke dua (kurun anak) telah berakhir tahun 2000,yaitu dengan wafatnya Al Maghfurlah KH.Abd.Malik Mufti,dimana semua saudaranya telah terlebih dahulu wafat sebelum tahun 2000 M.
Sepeninggal Almahfurlah KH. Abdul Malik Mufti, bulan Maret Tahun 2000, terjadilah kefakuman kepemimpinan Pondok Pesantren, khususnya untuk Pondok Pesantren Putra, karena untuk Pesantren Putri masih mengikuti ketentuan periode yang lalu, sedangkan Pondok Pesantren Putra untuk sementara dipimpin oleh sekretaris umum Pesantren, yaitu K.A. Nasichun Isa Mufti sejak 1 April 2000 sampai dengan 15 Desember 2000.
Pada akhir Desember 2000, dibentuk Tim Formatur dari perwakilan masing – masing keluarga, untuk menentukan penanggung jawab pengelola Pondok Pesantren Putra, yang menghasilkan Struktur Pengurus Harian sebagai berikut :
1. KH. Mohammad Syafi’I Baidlowi ( Ketua I )
2. K. A. Nasichun Isa Mufti ( Ketua II )
3. K. Ma’mun Abdul Malik ( ketau III )
Ketiga personil ini diberi tugas untuk mengelola Pondok Pesantren Putra, sampai dengan terbentuknya Kepengurusan baru “ Yayasan Pendidikan Pesantren “, maksimal dua tahun ke depan.
Awal Oktober 2000, terbentuklah kepengurusan Yayasan yang baru, dengan Ketua : K. Hisyam Ma’sum. Dan dari hasil pertemuan seluruh Organ Yayasan pada tanggal 4 Desember 2002 maka telah ditentukan penanggung jawab untuk masing – masing lembaga dibawah naungan Yayasan Pendidikan Pesantren Ma’hadut Tholabah sebagai berikut :
1. Penanggung jawab Pondok Pesantren Putra : KH. Mohammad S. Baidlowi
2. Penanggung jawab Pondok Pesantren Putri : K.A. Nasichun Isa Mufti
3. Penanggung jawab Madrasah Diniyah Putra : KH. Chafidz Isa Mufti
4. Penanggung jawab Madrasah Diniyah Putri : K. Mufti Abdul Malik
5. Penanggung jawab Madrasah Ibtidaiyah (MI) : Fachruri Rofi’i S.Pdi
6. Penanggung jawab Madrasah Tsanawiyah (MTs.M) : Drs. Fatkhuroji M.Si.
7. Penanggung jawab Madrasah Aliyah (MAM) : Baihaqi HR S.Pdi




Friday, 11 November 2016

Mengenang 10 November 1945 Sebagai Hari Pahlawan


Hari pahlawan 10 November 1945 merupakan catatan kunci sejarah Nasional yang pada masa itu, terjadi peperangan hebat yang banyak memakan korban jiwa demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Tepat hari Kamis 10 November 2016, merupakan hari Pahlawan ke-71. Dimana setiap tahunnya, Indonesia memperingatinya upacara hari pahlawan, menyanyikan lagu hening cipta dan mendoakan para pahlawan yang terlebih dahulu menghadap kepada sang pencipta.

Dikutip dari situs omediapc.com, pada masa itu di Kota Surabaya, Jawa Timur, terjadi pertempuran besar setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan 17 Agustus 1945. Peperangan pertama ini terjadi setelah Republik berdiri secara berdaulat.

Perang dikota Surabaya 10 November 1945 adalah pertempuran terbesar antara “Hidup atau Mati”. Inilah sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol perjuangan pahlawan Indonesia terhadap aksi kolonialisme.

Tepat 31 Agustus 1945, pemerintah mengeluarkan maklumat yang menetapkan mulai 1 September 1945 bendera Merah Putih harus dikibarkan di seluruh wilayah Indonesia. Aksi pengibaran bendera sang saka merah putih pun sampai keseluruh pelosok di kota Surabaya.

Aksi heroik pengibaran bendera di Surabaya terjadi saat pejuang beraksi melakukan perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, dan menggantinya dengan Merah Putih, peristiwa ini banyak diabadikan dalam buku-buku sejarah Nasional.
Kini hotel Yamato ini telah berganti nama menjadi Hotel Majapahit Surabaya. Saat itu Belanda yang masih di Surabaya di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman.

 

Memasuki tanggal 18 September 1945, Belanda mengibarkan bendera tanpa izin Pemerintah RI yang sudah berdaulat.
Bendera belanda saat itu pun dikibarkan pada tiang paling tinggi di Hotel Yamato. Keesokan harinya, para pemuda Surabaya yang menyaksikan bendera Belanda berkibar di Hotel Yamato menjadi marah karena Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia.

Soedirman yang saat itu berperan sebagai perwakilan RI masuk untuk berunding dengan Mr. Ploegman meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam perundingan ini Ploegman menolak untuk memenuhi tuntutan para pejuang arek-arek Surabaya.

Puncak dari perundingan yang tidak menemukan titik temu, Ploegman mengeluarkan pistol dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas setelah mengacungkan pistol dan satu dari pendamping Sudirman pun tewas dalam kericuhan tersebut.

Setelah mendengar letusan senjata, pemuda-pemuda yang menunggu diluar gedung lalu memasuki hotel Yamoto, sebagian dari mereka naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Soedirman kembali ke dalam hotel.

Didalam hotel terlibat dalam pemanjatan tiang bendera bersama Koesno Wibowo untuk menurunkan bendera Belanda (merah, putih, biru), merobek bagian warna birunya, dan mengibarkannya sebagai bendera merah putih dipuncak tiang.

Setelah kejadian di Hotel Yamato, pada tanggal 27 Oktober 1945 mulai terjadi pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris dalam skala kecil. Bentrokan tersebut makin hari mulai memanas berubah menjadi serangan umum yang banyak memakan korban jiwa.


Hingga akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi. Puncak pertempuran Pejuang Indonesia melawan Ingris berawal ketika Jendral Mallaby terbunuh saat sedang mengendarai mobil truk yang melewati jembatan merah.

Saat itu pula para pejuang Indonesia berada dijembatan tersebut, insiden pun tak terelakan. Jendral Mallaby tertembak dan meninggal dunia. Pihak kerajaan Inggris tidak terima perbuatan yang dilakukan oleh pihak Indonesia atas meninggalnya Jendral Mallaby.

Mereka kemudian memberi ultimatum 10 November 1945 kepada pejuang Indonesia untuk menyerahkan seluruh senjata dibawah pimpinan mereka yang baru, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh.

Pada tanggal 10 November 1945, tentara Inggris mulai beraksi (Ricklef) dipelosok kota Surabaya. Perisitiwa pemaksaan terhadap rakyat Surabaya ini diselingi pertempuran yang merupakan perlawanan arek-arek Surabaya.

Akibat dari kejadian itu, sekitar 6 ribu orang tewas dalam waktu tiga hari. Tentara Inggris sempat berhasil menguasai kota Surabaya. Peristiwa berdarah Hari Pahlawan 10 november 1945 tidak menyurutkan semangat pejuang Indonesia dalam menghadapai kaum penjajah.

Hingga Petikan “Merdeka atau Mati” keluar menjadi slogan pejuang dalam membangun semangat yang sangat fenomenal. Selain itu banyak muncul gerakan mempertahankan kemerdekan dipelosok tanah air, kemudian dapat direbut kembali kemerdekaan itu.



Editor : Mohamad Asror M.

Friday, 28 October 2016

Sejarah Singkat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober

Sejarah Singkat Sumpah Pemuda 28 Oktober. Hari sumpah pemuda di Indonesia diperingati setiap tanggal 28 Oktober. Pada tahun ini sumpah pemuda jatuh pada hari jumat 28 Oktober 2016. Untuk mengetahui lebih lengkap  peristiwa sumpah pemuda di Indonesia, mari kita kita pelajari bersama sejarah singkatnya.

Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928, yang merupakan hasil rumusan dari Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II Indonesia yang hingga kini setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.

Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat. Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.



Rapat pertama dilakukan pada hari Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan

Rapat kedua dilaksanakan pada hari Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Rapat penutup dilakukan di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106. Dalam rapat tersebut Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr. Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin

Isi Dari Sumpah Pemuda Hasil Kongres Pemuda Kedua adalah sebagai berikut :
PERTAMA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia).

KEDOEA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia).

KETIGA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia).



Editor : Mohamad Asror M.

Thursday, 11 December 2014

Kehadiranmu - Vagetista Cirebon (Cemara Band)

 Teguh Vagetoz & Buya Gembel

Vagetoz merupakan grup musik asal Cisaat,sukabumi yang berdomisli di Jakarta. Grup musik ini dibentuk pada tahun 1999. Anggotanya berjumlah 5 orang yaitu Teguh Permana (vokal), Acep Gunawan alias Son! (gitar), Irman alias Nuki (gitar), Budi alias Eboth (bass), dan Rudi alias Iday (drum).

Nama Vagetoz sendiri diambil dari kata Pageto (Bahasa Sunda) yang arinya lusa. karena dulu ketika setiap mau latihan, mereka bilang "Pageto wae latihana" ("Lusa aja latihannya").

Tahun 2008, Vagetoz mengeluarkan album religius bertajuk Kuatkan Aku yang menghadirkan 8 lagu dan 4 lagu dalam format karaoke. Album ini diciptakan berdasarkan inspirasi pribadi para personil Vagetoz dalam meniti perjalanan spiritualnya.

 

Kehadiranmu - Vagetista Cirebon (Cemara Band)



Lirik Kehadiranmu

Hadirnya dirimu
Berikan suasana baru
Kau mampu tenangkan aku
Disaat risau dalam hatiku
Lembutnya sikapmuMeluluhkan hati ini
Terbuai aku terlena
Oleh dirimu oleh dirimu… Woo…

[Reff] :
Jantung pun bergetar
Saat engkau ada didekatku
Mungkinkah diriku
Telah jatuh cinta pada dirimu… Woo…
Sebisa diriku
Mencoba untuk melupakanmu
Namun ku tak bisa
Kau pun slalu ada dalam hatiku

Dan biarkan semua
Mengalir apa adanya
Ku yakin kau pun pahami
Perasaanku… perasaanku… Woo…

by: Asror eL-RomLy