3 Tokoh Lirboyo beserta Menantu dan Anak Cucunya

| Aplikasi | Buku | Modding | Pendidikan | Teknologi | Tips dan Trik | Tutorial |.

Asror eL-RomLy (Buya Gembel)

| Aplikasi | Buku | Modding | Pendidikan | Teknologi | Tips dan Trik | Tutorial |.

Gedung Al-Hasan Pon.Pes. Al-Hikmah 02

| Aplikasi | Buku | Modding | Pendidikan | Teknologi | Tips dan Trik | Tutorial |.

KH.Masruri A.Mughni (Pengasuh Pon. Pes. Al-Hikmah 02)

| Aplikasi | Buku | Modding | Pendidikan | Teknologi | Tips dan Trik | Tutorial |.

Masjid An-Nuur Pon.Pes. Al-Hikmah 02

| Aplikasi | Buku | Modding | Pendidikan | Teknologi | Tips dan Trik | Tutorial |.

Marilah dirikan Sholat dan Menuju Kemenangan

| Aplikasi | Buku | Modding | Pendidikan | Teknologi | Tips dan Trik | Tutorial |.

Acong Is Death (Gembel Arab)

| Aplikasi | Buku | Modding | Pendidikan | Teknologi | Tips dan Trik | Tutorial |.

Showing posts with label Pesantren. Show all posts
Showing posts with label Pesantren. Show all posts

Saturday, 29 October 2016

Fakta Menarik Tentang Santri di Pesantren

1. Para santri ngetel (masak) sendiri
Masak sendiri merupakan salah satu hal yang mendewasakan dalam dunia pesantren. Tempo dulu, ketika belum ada kompor, santri masak memakai kayu bakar. Ketika musim hujan tiba, tak jarang banyak hanger atau sandal jepit yang hilang. Ke mana hilangnya, ya, jelas ke tungku untuk memasak. Namun, sekarang jarang santri yang masak sendiri, seiring dengan perkembangan jaman. Jika mencari santri memasak di dapur, silakan cari pondok yang masih salaf.

2. Makan se-lengser bersama

Inilah yang membuat apapun makanannya akan enak terasa. Santri yang memasak, ketika sudah siap saji, makanan ditiriskan di lengser atau daun pisang. Kemudian dimakan secara bersama-sama oleh 5 – 10 orang. Meski nasi dan sayur masih panas, para santri tak peduli untuk melahapnya. Soal tangan gosong atau lidah terbakar, itu soal nanti. Masalahnya, kalau tidak berani ambil resiko itu, dijamin tidak kenyang karena kalah dengan yang lain.

3. Antri mandi
Pesantren yang jumlah santrinya ribuan, ketika pagi dan sore hari akan ada pemandangan menarik di kamar mandi atau kali (sungai). Satu kamar mandi, bisa antre tiga orang. Jika tak sabar, yang ngantri akan menggedor-gedor pintu. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya buang hajat dengan pintu digedor-gedor. Berbeda dengan kamar mandi, kalau mandi di sungai antrinya petelesan celana untuk santri putra. Sungguh menggelikan.
4. Tidur di lantai berbantal pakaian kotor
Dulu tak ada ceritanya santri tidur di kasur. Tidurnya cukup merebahkan badan di lantai kamar, depan kamar atau serambi masjid. Untuk bantal, pakaian kotor dikumpulkan lalu dibungkus dengan sarung. Hal itu sudah lebih dari cukup menghilangkan kantuk karena kesibukan ngaji pagi, siang sampai malam.

5. Berebut IN atau jajanan
Sudah menjadi tradisi, ketika ada santri baru atau menerima wesel atau sehabis pulang selalu membawa aneka jajanan. Ketika si santri datang diantar orang-tua, seluruh anggota kamar akan bersikap dewasa dan melayani tamu dengan penuh penghormatan, seperti anjuran baginda nabi.


Namun sejurus kemudian, ketika para tamu orang tua atau wali santri itu pulang, akan segera terjadi kegaduhan: berebut jajanan. Ini suatu tradisi yang lazim terjadi di pesantren-pesantren salaf, meski latar belakang santri adalah seorang yang mampu. Berebut I.N. atau jajanan ini menjadi suatu hal yang menarik dan menyenangkan.

6. Dikejar setoran
Setoran disini bukanlah setoran yang lazim terjadi antara sopir angkot dengan juragannya, namun setoran hafalan nadzaman dan syair-syair kitab. Biasanya, seminggu sekali para santri setoran hafalan tersebut kepada sang ustadz. Jika tidak memenuhi target, si santri akan dita’zir dan lebih ekstrem lagi tak bisa naik kelas.

7. Mayoran
Istilah mayoran dewasa ini jarang terdengar. Ini adalah manifestasi kekompakan atau rasa syukur santri setelah mengkhatamkan kitab. Biasanya, ada pengurus kelas yang menariki iuran lalu dibelikan daging. Daging, merupakan barang mewah bagi santri yang dengan kultur pesantren salaf rata-rata menyuruh untuk hidup senderhana, riyadlah dan tirakat. Namun, sepertinya tradisi mayoran ini sekarang lekang oleh waktu karena makanan mewah sudah ada dimana-mana.

8. Ta’zir (hukuman)
Pesantren dimanapun memiliki peraturan. Jika ada santri yang melanggar, ia akan dihukum sesuai bobot pelanggarannya. Ada yang diceburkan ke kolam atau sungai, dicukur gundul atau dipajang di depan pesantren dengan mengalungkan papan bertuliskan kesalahannya. Ketika terjadi ta’ziran ini, biasanya semua santri menonton dan menyoraki. Ini pelajaran sekaligus tes mental dan melatih tanggung jawab.

9. Berebut mencium tangan kiai
Pesantren salaf mengajarkan santri untuk memuliakan ilmu dan ahlinya. Salah satu bentuk memuliakan tersebut adalah bersalaman dan mencium tangan kiai. Ini terjadi di semua pesantren-pesantren salaf, kecuali pesantren modern. Selain itu, bersalaman dan mencium tangan kiai adalah sebuah upaya ngalap berkah agar mendapat ridla dari sang kiai.

 10. Tirakat
Terakhir dalam tulisan ini, adalah tirakat. Para santri biasanya meminta ijazah kepada kiai akan amalan-amalan tertentu seperti: ngrowot (tidak makan nasi), puasa, shalat jamaah, manaqib, mujahadah, dalalil dll. Amalan tersebut merupakan metode salafiyyah yang menjadi perekat masuknya ilmu ke hati. Jadi, jangan heran kalau ada santri yang makannya nasi aking (oyek, thiwul) karena itu ia sedang menjalankan misi spiritual. Bahkan, di pesantren tertentu, banyak santri yang mengamalkan ilmu kanuragan sehingga tak mempan bacok.

Demikianlah fakta menarik tentang santri di pesantren yang dapat saya rangkum. Semoga, ke depan para santri terus dapat berkiprah membangun masyarakat, negara dan bangsa dalam domain agama Islam yang rahmatan lil alamin.




Editor : Mohamad Asror M.
Sumber : santri.net

Thursday, 20 October 2016

Sejarah Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon

Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon didirikan sekitar tahun 1127 H/ 1705 M. oleh Kyai Jatira. Kyai Jatira adalah gelar dari KH. Hasanuddin putra KH. Abdul Latief dari desa Mijahan Plumbon Cirebon. Beliau merupakan bagian dari Keraton Cirebon.

KH. Hasanuddin adalah seorang pejuang agama yang sangat dekat dengan masyarakat miskin. Desa yang kering dengan lahan pertanian yang kurang subur menjadikan dirinya berpacu mengembangkan pondoknya sebagai tempat peristirahatan yang jauh dari keramaian terutama dari pengaruh kekuasaan dan penjajah belanda. Maka dirintislah sebuah pesantren sederhana yang diberi nama Pesantren Babakan.
Stagnasi kepemimpinan dalam pesantren terjadi ketika Kyai Jatira meninggal dunia, langkah kaderisasi di Pesantren Babakan mengakibatkan terputusnya kegiatan pesantren sampai sarana fisikpun tidak berbekas. Sampai kemudian KH. Nawawi menantu dari Kyai Jatira membangun kembali Pondok Pesantren Babakan yang letaknya satu kilometer kearah selatan dari tempat semula.
Dalam mengasuh pesantren beliau dibantu oleh KH. Adzro’i. Setelah itu pesantren dipegang oleh KH. Ismail putra KH. Adzro’i tahun 1225 H/1800 M.mulai tahun 1916 M pesantren diasuh oleh KH. Amien Sepuh bin KH. Irsyad, yang masih merupakan Ahlul Bait dari garis keturunan Sunan Gunung Jati.

K.H. AMIN SEPUH (Babakan Ciwaringin Cirebon)

Kiyai Amin Sepuh pernah nyantri di Pesantren Bangkalan Madura, yang saat itu diasuh oleh Kiyai Kholil, Kiyai yang terkenal kewara’annya. Ketika nyantri disana, Kiyai Amin Sepuh diasuh oleh Kiyai Hasyim Asy’ari, kakek Gusdur, yang waktu itu masih menjadi ustadz di pesantren Bangkalan Madura,
Kiyai Amin Sepuh yang awalnya hanya nyantri di Pesantren Babakan Ciwaringin atas amanah ayahandanya, Kiyai Irsyad, malah diamanahi oleh Kiyai Ismail yang saat itu jadi pengasuh pesantren, untuk memimpin Pesantren Babakan Ciwaringin dan dinikahkan dengan keponakan Kiyai Ismail.
KH. Amien Sepuh menekuni Pesantren Babakan sebagai tempat pengabdiannya terhadap masyarakat Islam khususnya. Setelah 25 tahun mengembangkan Pesantren Babakan, tahun 1940-an, yaitu pasca kemerdekaan, Beliau sekaligus berjuang bagi kemerdekaan RI. Bahkan dalam perang 10 November Surabaya, para kiyai khos termasuk KH Hasyim Asy’ari menunggu kabar dari KH Amin sepuh sebelum mengeluarkan Fatwa Jihad.

Quote:
Diceritakan dalam sebuah majelis, almarhum KH. Abdul Mujib Ridlwan, Putra KH. Ridlwan Abdullah Pencipta lambang NU, mengajukan sebuah pertanyaan, “Kenapa Perlawanan Rakyat Surabaya itu terjadi 10 November 1945, kenapa tidak sehari atau dua hari sebelumnya padahal pada saat itu tentara dan rakyat sudah siap ?”
Melihat tak satupun diantara yang hadir dalam majelis itu dapat menjawab, pertanyaan itu dijawab sendiri oleh Kiai Mujib, “Jawabannya adalah saat itu belum diizinkan Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari untuk memulai pertempuran, Mengapa tidak diizinkan? ternyata Kiai Hasyim Asy’ari menunggu kekasih Allah dari Cirebon yang akan datang menjaga Langit Surabaya, Beliau Adalah KH. ABBAS ABDUL JAMIL dari pesantren buntet Cirebon dan KH. AMIN SEPUH dari Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon.” KH. Amin Sepuh bersama beberapa anaknya, para Kiyai Cirebon ( wil 3 Cirebon dan Jawa Barat) plus Ustadz, santri dan masyarakat benar-benar berjuang ke surabaya, Jawa Timur. Bahkan kabarnya yang menembak Jendral Mallaby dari Inggris yang di boncengi Belanda (NICA), adalah anak buah KH. Amin Sepuh yang bernama Kiyai Sholeh yang wafat disana.

Pasca Revolusi Kemerdekaan beliau dibantu adik iparnya sekaligus muridnya KH. Sanusi terus mengembangkan Pesantren dengan berbagai aral melintang. Bahkan yang dahsyat adalah ketika Agresi Belanda, tepatnya tahun 1952 Pondok Pesantren diserang Belanda. Dikarenakan KH. Amin sepuh sebagai sesepuh cirebon merupakan pejuang yang menentang penjajah. Pondok dibakar dan dikepung. Para santri pergi dan para Pengasuh beserta keluarga mengungsi.
Dua tahun kemudian, tahun 1954, KH. Sanusi yang masih salah satu murid KH. Amin Sepuh adalah orang yang pertama kali datang dari pengungsiannya. Sisa-sisa kitab suci berantakan, termasuk karya-karya KH. Amin Sepuh, habis dibakar, bangunan hancur dan nampak angker. Semua itu secara bertahap dibereskan lagi.

Tahun 1955 KH. Amin Sepuh kembali ke Babakan, kemudian para santri banyak berdatangan dari berbagai pelosok. KH. Amin sepuh yang menjadi pengasuh Pondok Gede kembali memberikan pelajaran-pelajaran agama kepada para santrinya yang makin lama makin meluap. Pondok Raudhotut Tolhibin tidak dapat menampung para santri. Hingga santrinya dititipkan dirumah-rumah ustadnya seperti KH. Hanan, dirumah KH. Sanusi, dsb. hingga kelak anak cucunya membentuk dan mengembangkan pesantren-pesantren seperti sekarang ini. Sehingga Pondok yang awalnya hanya satu (Ponpes Raudlotut Tholibin) sekarang menjadi banyak.

Nama-nama asrama pesantren dimaksud adalah:
Komplek Babakan Utara, terdiri dari

1.      Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin yang didirikan oleh KH Amin (saat ini diasuh oleh KH Afif Zuhri Amin). Ini pesantren pertama di Babakan Ciwaringin.
Kemudian Asrama Fatimiyah Ma’hadul Ilmi/AFMI (saat ini diasuh oleh KH Maksum Mochtar).
2.      Pondok Pesantren Asrarur Rafiah (KH Muhtadi Syarief)
3.      Pondok Pesantren Al-Badar (saat ini diasuh oleh KH Tohari)
4.      Pondok Pesantren Mahad at-Talim al-Baqiyah as-Salihah/MTBS (saat ini diasuh oleh Ustadz Yusuf)
5.      Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmi (saat ini diasuh oleh Ustadz Hamzah Hariri)
6.      Pondok Pesantren az-Ziyadah (saat ini diasuh KH. Asmawi)
7.      Pondok Pesantren al Barakah (Didirikan oleh KH Syadzili)
Balai Pendidikan Pondok Putri/Bapenpori (saat ini diasuh oleh KH. Amin Fuad)
8.      Pondok Pesantren As-Sanusi (diasuh oleh KH Abdul Kohar)
9.      Pondok Pesantren Dahlia (Ustadz Marzuki)
10.  Pondok Pesantren As-Syuhada (Ustadz Toha Amin)
11.  Pondok Pesantren As-Saadah (Ustadz Abdurrahman)
12.  Pondok Pesantren Ikhwanul Muslimin/PPIM (saat ini diasuh oleh KH Natsir)
13.  Pondok Pesantren at-Taqwa (Ustadz Busyer)
14.  Pondok Pesantren al-Munir (Ustadz Munir)
15.  Pondok Pesantren al-Furqan (Ustadz Hasan)
16.  Pondok Pesantren Al-Mustain (Ustadz Marzuki)
17.  Pondok Pesantren Al-Faqih (didirikan oleh KH M. Thobiin).

Sementara Pesantren Babakan Selatan, terdiri dari:

1.    Pondok Pesantren Miftahul Muta’allimin pesantren pertama di wilayah Selatan (Didirikan oleh Kyai Mad Amin, saat ini diasuh oleh KH Syarief Hud Yahya)
2.   Pondok Pesantren Assalafie (didirikan oleh KH Syaerozi, saat ini diasuh oleh KH Azka Hammam Syaerozi dan KH Yasyif Maemun Syaerozi)
3.   Pondok Pesantren Muallimin-Muallimat (didirikan oleh KH. Amin Halim, saat ini diasuh oleh KH Zamzami Amin dan KH Marzuki Ahal)
4.    Pondok Pesantren Assalam (diasuh oleh KH Mukhtasun)
5.   Pondok Pesantren Kebon Jambu (didirikan oleh KH Muhammad, saat ini diasuh oleh Ustadz Asror Muhammad)
6.    Pondok Pesantren Raudlatul Banat (didirikan oleh KH Syarief Hud Yahya)
7.    Pondok Pesantren Al Muntadhor (diasuh oleh KH Burhanuddin)
8.    Pondok Pesantren Al Hikmah (diasuh oleh KH Nasihin Aziz)
9.    Pondok Pesantren Hadiqah Usyaqil Quran/HUQ (Diasuh oleh KH Nurhadi Thayib)
10.  Pondok Pesantren al Ikhlas (diasuh oleh KH Mukhlas)
11.  Pondok Pesantren Asshalihah (didirikan oleh KH Hasan Palalo)
12.  Pondok Pesantren al Huda (diasuh oleh Ustadz Rumli Muntab)
13.  Pondok Pesantren Masyarikul Anwar (diasuh oleh KH Makhtum Hanan)
14.  Pondok Pesantren Al Kamaliyah (diasuh oleh KH Tamam Kamali)
15.  Pondok Pesantren Al Kautsar (KH Muhaimin)

Pada masa pengasuhan KH. Amin Sepuh, Pondok Babakan Ciwaringin mencapai kemasyhuran dan masa keemasan serta banyak andil dalam mencetak tokoh-tokoh agama yang handal, hampir semua Kiyai sepuh di wilayah 3 Cirebon bahkan menyebar ke pelosok Indonesia adalah muridnya, sebut saja Kang Ayip Muh (kota Cirebon), KH. Syakur Yassin, KH. Abdullah Abbas (Buntet), KH Syukron Makmun, KH. Hannan, KH Sanusi, KH.Machsuni (Kwitang), KH Hassanudin (Makassar), di Babakan sendiri beberapa muridnya mendirikan pesantren seperti : KH. Muhtar, KH Syaerozi, KH. Amin Halim, KH. Muhlas, KH Syarif Hud Yahya..dll.

KH. Amien Sepuh wafat pada tahun pada tahun 1972 dan KH. Sanusi wafat pada tahun M.1974 M, dan kepengurusan dilanjutkan oleh KH. Fathoni Amin sampai tahun 1986 M.
Setelah wafatnya KH. Fathoni Amin kepengurusan pesantren dilanjutkan oleh KH. Bisri Amin ( wafat tahun 2000 M.) beserta KH. Fuad Amin ( wafat tahun 1997 M.) dan KH. Abdullah Amin ( wafat tahun 1999 M.) serta KH. Amrin Hanan ( wafat tahun 2004 M.) dan KH. Azhari Amin (wafat tahun 2008 ) KH. Drs. Zuhri Afif Amin wafat pada tahun 2010. setelah wafatnya KH. Drs Zuhri Afif Amin, kepengurusan dilanjukan oleh cucu-cucu KH. Amin Sepuh dan Ulama serta masyarakat yang berkompeten untuk kemajuan pesantren. Bahkan bukan pendidikan agama saja yang mereka terapkan, pendidikan umumpun mereka terapkan terhadap para santrinya. Dengan harapan, para santrinya dapat memenuhi semua kewajibannya, baik kewajiban dunia maupun akhirat, serta menyelaraskannya beriringan dan seimbang.





Editor : Mohamad Asror M.

Tuesday, 11 October 2016

Sejarah Pon. Pes. Ma’hadut Tholabah Babakan Lebaksiu Tegal

A. Sejarah Singkat Berdirinya Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah


 Tampak Depan Tempo Doeloe

Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah Babakan didirikan secara resmi pada tahun1916 M/ 1336 H. oleh K.H. Mufti bin Salim bin Abdur Rahman, seorang ulama asal Desa Balapulang Kabupaten Tegal. Bliau diambil menantu oleh K. Sulaiman, seorang bekel (Kepala Desa) Jatimulya yang dikenal kaya raya diwilayah Kecamatan Lebaksiu saat itu.
KH. Mufti Bin Salim Bin Abdur Rahman, telah mulai merintis kegitan pesantren ini sejak tahun 1913 M, yakni dengan membuka kegiatan pengajian umum di Mesjid Jami dukuh Babakan yang diikuti oleh 12 orang dari lingkungan Babakan.
Ketika kegiatan sudah berjalan 2 tahun,dan peserta pngajian mulai bertambah banyak, maka pada tahun 1916 M. Beliau mulai mengembangkan kegiatan keagamaanya,dengan membangun sebuah musholah di ujung selatan pedukuhan Babakan yang merupakan sentral seluruh kegiatan keagamaan yang di pimpin oleh beliau.Sedangkan para peserta pengajianyang berminat untuk bermukim, mereka membangun sendiri tempat pemukiman sejumlah 4 kamar yang masing-masing berukuran 3 X 4 X 1 M2,dengan lokasi di sebelah selatan Mushola.

Tampak Depan Sekarang

Sejak saat itulah tempat aktivitas keagamaan ini dikenal dan di kukuhkan sebagai Pondok Pesantren Ma`hadut Tholabah.

B. Periodisasi Kepengurusan Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah
Sejak masa berdirinya ( 1916 M.), Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah telah mengalami 5 periode kepemimpinan sebagai berikut ;

1) Periode I ( Tahun 1916 – 1935 M. )
Pengasuh : K.H. Mufti bin Salim (Pendiri)
Dibantu Oleh : KH. Sulaiman ( Mertua )
K.H. Abdurrohim ( Ipar )
K.H. Anwar ( Ipar )
Ny. Hj. Fatimah ( Istri )

2) Periode II ( Tahun 1935 – 1947 M.)
Pembina /Penasehat : Ny. Hj. Fatimah ( Ibu )
Pengasuh : K.H. Ma’sum Mufti (Anak I)
Wakil : K.H. M. Syafi’i Mufti ( Anak II )
Dibantu Oleh : K.H. Abdur Rohim (Pak De )
K.H. Dahlan Anwar ( Ipar )

3) Periode III ( Tahun 1947 – 1982 M. )
Pembina /Penasehat      Ny. Hj. Fatimah ( Ibu )
Pengasuh                      K.H. Isa Mufti (Anak III)
Dibantu Adik-adiknya : Ny.Hj. Khoiriyah Mufti (Anak IV)
K.H. Abdul Malik Mufti (Anak V)
K.H. Baidlowi Mufti (Anak VIII)
Ny. Hj. Mutimah Mufti (Anak IX)
K.H. Khozin Mufti (Anak X)
K.H. Sofwan Mufti (Anak XI)
Para menantu K.H. Mufti.
Pada periode III ini Ny. Hj. Fatimah ( Ibu ) bertindak selaku Pembina Pondok Pesantren, dan sekaligus menangani secara khusus pengelolaan Pondok Pesantren Putri sampai dengan Bliau wafat tahun 1977 M. Untuk selanjutnya Pondok Pesantren Putri dipimpin oleh Ny. Hj. Khoiriyah Mufti yang berlangsung sampai dengan tahun 1990 M.

Sedangkan untuk pengelolaan Madrasah Diniyah khusus diserahkan pada :
1. KH. Abdul Malik Mufti :
Pimpinan Madrasah Diniyah Putra tingkat dasar ( Ibtidaiyah 6 Tahun )
2. KH. Baidlowi Mufti :
Pimpinan Madrasah Diniyah Putra tingkat menengah ( Tsanawiyah )
3. Ny. Hj. Mundiroh ( Istri KH. Isa Mufti ) :
Pimpinan Madrasah Diniyah Putri ( Al Banat )

4) Periode IV ( Tahun 1982 – 2000 M.)
Pengasuh          : K.H. Abdul Malik Mufti
Pengasuh Putri  : Ny.Hj. Khoriyah Mufti

Pada periode ini Pondok Pesantren Putri masih dikelola oleh Ny. Hj. Khoiriyah Mufti sampai dengan tahun 1990, dan dilanjutkan oleh adiknya yaitu Ny. Hj.Mutimah Mufti sampai dengan wafatnya pada tahun 1995.
Sepeninggal Ny. Hj. Mutimah Muft, Tim Formatur Pondok Pesantren menunjuk 3 Orang Menantu KH. Mufti, sebagai Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Putri, yang masing masing mempunyai otoritas dan kewenangan yang sama yaitu
1). Ny Hj Saeroroh Masykuri ( Istri Alm. KH Abdul Malik Mufti )
2). Ny Hj Masyfu’ ah Dahlan (Istri Alm. KH Baedlowi Mufti )
3). Ny Hj Masruroh Masyhudi ( Istri Alm. KH. Sofwan Mufti )

5) Periode V ( tahun 2000 – Sekarang )
Pada pride ini,pondok pesantren dikelola secara kolektif oleh generasi ke tiga (kurun cucu), karena generasi ke dua (kurun anak) telah berakhir tahun 2000,yaitu dengan wafatnya Al Maghfurlah KH.Abd.Malik Mufti,dimana semua saudaranya telah terlebih dahulu wafat sebelum tahun 2000 M.
Sepeninggal Almahfurlah KH. Abdul Malik Mufti, bulan Maret Tahun 2000, terjadilah kefakuman kepemimpinan Pondok Pesantren, khususnya untuk Pondok Pesantren Putra, karena untuk Pesantren Putri masih mengikuti ketentuan periode yang lalu, sedangkan Pondok Pesantren Putra untuk sementara dipimpin oleh sekretaris umum Pesantren, yaitu K.A. Nasichun Isa Mufti sejak 1 April 2000 sampai dengan 15 Desember 2000.
Pada akhir Desember 2000, dibentuk Tim Formatur dari perwakilan masing – masing keluarga, untuk menentukan penanggung jawab pengelola Pondok Pesantren Putra, yang menghasilkan Struktur Pengurus Harian sebagai berikut :
1. KH. Mohammad Syafi’I Baidlowi ( Ketua I )
2. K. A. Nasichun Isa Mufti ( Ketua II )
3. K. Ma’mun Abdul Malik ( ketau III )

Ketiga personil ini diberi tugas untuk mengelola Pondok Pesantren Putra, sampai dengan terbentuknya Kepengurusan baru “ Yayasan Pendidikan Pesantren “, maksimal dua tahun ke depan.

Kunjungan Presiden Soeharto ke PP. Ma'hadut Tholabah

Awal Oktober 2000, terbentuklah kepengurusan Yayasan yang baru, dengan Ketua : K. Hisyam Ma’sum. Dan dari hasil pertemuan seluruh Organ Yayasan pada tanggal 4 Desember 2002 maka telah ditentukan penanggung jawab untuk masing – masing lembaga dibawah naungan Yayasan Pendidikan Pesantren Ma’hadut Tholabah sebagai berikut :
1. Penanggung jawab Pondok Pesantren Putra : KH. Mohammad S. Baidlowi
2. Penanggung jawab Pondok Pesantren Putri : K.A. Nasichun Isa Mufti
3. Penanggung jawab Madrasah Diniyah Putra : KH. Chafidz Isa Mufti
4. Penanggung jawab Madrasah Diniyah Putri : K. Mufti Abdul Malik
5. Penanggung jawab Madrasah Ibtidaiyah (MI) : Fachruri Rofi’i S.Pdi
6. Penanggung jawab Madrasah Tsanawiyah (MTs.M) : Drs. Fatkhuroji M.Si.
7. Penanggung jawab Madrasah Aliyah (MAM) : Baihaqi HR S.Pdi


Alumni PP. Ma'hadut Tholabah Babakan - Lebaksiu - Tegal


Thursday, 6 October 2016

Menyambut Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang Ke - 2

 


BREBES -Tahun 2016 merupakan tahun ke-2 negara Indonesia memperingati Hari Santri Nasional (HSN). HSN ada pada masa pemerintahan Presiden Ir. Joko Widodo. Di harapkan dengan peringatan ini, menjadi titik tolak upaya mengarusutamakan santri ke tengah peradaban umat Islam Indonesia. Kemerdekaan bangsa ini faktanya tidak lepas dari perjuangan para santri Nusantara.

Menurut Kementerian Agama setidaknya ada lima alasan penetapan Hari Santri Nasional (HSN), yaitu : Pertama, hari santri merupakan ejawantah dari pemaknaan sejarah Indonesia yang tidak terpisahkan dari berdirinya sebuah bangsa. Inilah yang membedakan Indonesia dengan negara lain. Indonesia tidak hanya dibangun dengan senjata, darah dan air mata, tetapi berdiri karena keikhlasan dan perjuangan para santri religius yang berdarah merah putih.

Kedua, santri merupakan implementasi kekuatan relasi Islam dan negara. Kedua simbol ini dapat tercermin dari seorang santri. Sehingga adanya hubungan ini, Indonesia dapat menjadi model dunia tentang hubungan Islam dan negara. 

Ketiga, meneguhkan persatuan umat Islam yang telah terafiliasi dan menyejarah dalam ormas islam dan parpol yang berbeda, perbedaan melebur dalam kesantrian yang sama.

Keempat, eksistensi santri yang sangat menyejarah itu berpotensi termarjinalkan oleh derasnya arus globalisasi. Ini harus dilakukan pembendungan dengan cara menghargainya melalui penetapan Hari Santri Nasional. 

Kelima, hari santri menunjukkan eksistensi indonesia kepada dunia bahwa Indonesia yang religius demokratis. Demikian, upaya merawat dan mempertahakan religiusitas Indonesia yang demokratis di tengah kontestasi pengaruh ideologi agama global yang cendrung ekstrim radikal.

Seperti diketahui, secara seremonial peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober setiap tahunnya. Tahun 2016 merupakan tahun ke-2 pelaksanaan peringatan tersebut. 


Mengucapkan
Selamat Hari Santri Nasional 
22 Oktober 2016
 




Thursday, 27 December 2012

Selayang Pandang Pon. Pes. Al-Hikmah Benda


Pondok Pesantren Al-Hikmah berdiri pada masa penjajahan Belanda. Para Pengasuh Al-Hikmah dianggap oleh Belanda, sebagai pengobar semangat perjuangan. Akibatnya, pada masa revolusi kemerdekaan 1945, Sembilan kamar santri dihancurkan dan dibakar tentara Belanda. Cikal bakal berdirinya Pesantren sendiri, tak lepas dari upaya Mbah Cholil ( KH. Cholil bin Mahalli).  Beliau mengimpin para santri dengan gerakan bawah tanah. Melalui pendekatan bilhikmati wal mau’idhotil hasanah (kebijaksanaan, nasihat baik dan keikhlasan berdakwah). Mbah Cholil yang pernah nyantri di Pesantren Mangkang, Semarang, itu mengadakan pengajian dari pintu ke pintu rumah penduduk. Dari surau ke surau yang ada di desa tersebut.
Pola ini dilakukannya selama 10 tahun. Tahun 1922, KH. Suhaimi bin Abdul Ghani – anak dari kakak KH. Cholil – pulang dari Mekah. Disitu keduanya sepakat mengembangkan bangunan pesantren yang telah ada sejak tahun 1911. Maka pada tahun 1926 terwujudlah pondok khusus Takhfidz Qur’an. Dan setelah itu berturut-turut mereka berhasil mendirikan Sembilan buah ruangan untuk asrama para santri. Sejak saat itu arah dan sistem pendidikan segera ditancapkan. Ada dua program pendidikan yang dikembangkan. Pertama, menyelenggarakan pengajian kitab kuning, yang diasuh oleh KH. Cholil. Kedua, pengajian Tahfidzul Qur’an yang diasuh oleh KH. Suhaemi. Maka pada tahun 1929 didirikanlah madrasah ibtidaiyah diniyah, dan mendapat izin operasional dari pemerintahan Belanda pada tahun 1931.

KH. Cholil dan KH. Suhaemi terus berjuang bahu membahu membangun Pesantren. Tidak sia-sia pembinaan yang dilakukan selama bertahun-tahun oleh beliau berdua. Hal ini terbukti pada tahun 1932, dari sejumlah santri yang menghafal Al-Qur’an sudah ada lulusan santri yang khatam bil ghoib. Dengan prestasi inilah pesantren Al-Hikmah mulai mencuat namanya ke berbagai daerah. Seiring dengan perkembangan tersebut, maka kegiatan-kegiatan Pesantren menjadi lebih komplek dan semarak. Kegiatan yang ada tak hanya sebatas menghapal al-Qur’an tetapi sudah dibarengi dengan pendalaman dan pengajian kitab-kitab kuning oleh tenaga-tenaga muda alumnus dari berbagai pesantren yang salah satunya Ust. Faozan Zaen dari Rembang (sebagai santri yang tahaffudz sekaligus pengajar kitab kuning).


Seputar Profil Pon. Pes. Al-Hikmah 02 Video dibawah ini:

Penyelenggaraan pendidikan Al-Hikmah hingga tahun 1947, dapat dikatakan berkembang pesat. Bahkan selama periode itu, pihak pesantren juga sempat mengembangkan program secara lebih beragam yaitu bidang Qiraatul kutub, Qiraatul Qur’an bit Taghoni (membaca Al QUr’an dengan dilagukan), sistem madras (klasikal), mejelis taklim untuk umum, dan dakwah keliling ke beberapa daerah. Namun perkembangan lembaga pendidikan itu sempat terhenti. Terutama setelah peristiwa pembakaran pondk dan pembunuhan sejumlah ustadz dan santri oleh Penjajah Belanda, tahun 1947-1948. 
Diantara para ustadz yang gugur adalah KH. Ghozali, H. Miftah, H. Masyhudi Amin bin H. ANimah, Sukri, Daad, Wahyu, Siroj dll. Selama tujuh tahun berikutnya, laju perkembangan terhenti. Tindakan ini terpaksa dilakukan untuk menghindari penangkapan yang dilancarkan oleh Belanda. Selama tujuh tahun itu pula, Kiai Suhaemi mengungsi ke tempat yang lebih aman, sedangkan secara diam-diam KH. Cholil bersama menantunya KH. Ali Asy’ari dan kawan-kawan melestarikan secara diam-diam lembaga pendidikan yang ada. Masuk di tahun 1952, setelah kondisi relatif lebih stabil dan aman, asrama Pesantren yang sebelumnya sempat hancur dibangun kembali. 

Sebagian dibangun untuk menetap para santri, sedangkan sebagian lagi digunakan untuk mendirikan madrasah ibtidaiyah. Kini, setelah mengalami pasang surut perkembangannya, Al-Hikmah telah mencatat kemajuan pesat. Lembaga pendidikan ini menempati areal seluas enam hektar. Melihat jumlah santri yang kian bertambah, guna memaksimalkan bimbingannya, Pondok Pesantren Al-Hikmah membagi kepengasuhannya menjadi PP. Al-Hikmah 1 yang diasuh oleh KH. Soddiq Suhaemi ( putra alm. KH. Suhaemi), serta PP. Al-Hikmah 2 yang diasuh oleh Majelis Pengasuh Pesantren (Putra-Putri alm. KH. Mochammad Masruri Abdul Mughni (cucu KH. Cholil). Tidak kurang sekitar 5000 orang santri mondok di Al-Hikmah saat ini. 

Salam Persahabatan
Oleh Santri Badeg : Buya Gembel