3 Tokoh Lirboyo beserta Menantu dan Anak Cucunya

| Aplikasi | Buku | Modding | Pendidikan | Teknologi | Tips dan Trik | Tutorial |.

Asror eL-RomLy (Buya Gembel)

| Aplikasi | Buku | Modding | Pendidikan | Teknologi | Tips dan Trik | Tutorial |.

Gedung Al-Hasan Pon.Pes. Al-Hikmah 02

| Aplikasi | Buku | Modding | Pendidikan | Teknologi | Tips dan Trik | Tutorial |.

KH.Masruri A.Mughni (Pengasuh Pon. Pes. Al-Hikmah 02)

| Aplikasi | Buku | Modding | Pendidikan | Teknologi | Tips dan Trik | Tutorial |.

Masjid An-Nuur Pon.Pes. Al-Hikmah 02

| Aplikasi | Buku | Modding | Pendidikan | Teknologi | Tips dan Trik | Tutorial |.

Marilah dirikan Sholat dan Menuju Kemenangan

| Aplikasi | Buku | Modding | Pendidikan | Teknologi | Tips dan Trik | Tutorial |.

Acong Is Death (Gembel Arab)

| Aplikasi | Buku | Modding | Pendidikan | Teknologi | Tips dan Trik | Tutorial |.

Showing posts with label Humor. Show all posts
Showing posts with label Humor. Show all posts

Tuesday, 1 November 2016

Humor Kyai Gadungan, Kyai Kampung dan Rokok Sang Kyai


KYAI GADUNGAN

Sekian tahun tinggal di pesantren, Jon Koplo dan Tom Gembus merasa jenuh juga. Seperti layaknya remaja lain, dua penghuni sebuah pondok pesantren di Ceper, Klaten, ini juga ingin refreshing meski harus nglimpekke (sembunyi-sembunyi) kyai-kyai pengasuh mereka. Kebetulan di hari ke-10 Bulan Muharam lalu, di kampung sebelah ada acara pengajian dan pemberian santunan anak yatim disertai hiburan. Mereka pun ngacir ke sana.

Memasuki tempat acara, beberapa among tamu sudah berjejer rapi berpakaian jas dan berdasi. Nah, cerita lucunya di sini. Ada satu orang laki-laki yang berpenampilan ala kyai, pakai baju koko, peci putih plus serban merah kotak-kotak. Jon Koplo dan Tom Gembus segera ikut bersalaman seperti tamu-tamu yang lain.

Giliran sampai di depan laki-laki “kyai” tadi, dengan keduanya penuh takzim dikecupnya tangan sang “kyai”, layaknya santri bersalaman dengan kyainya di pondok. Selesai bersalaman, Koplo dan Gembus duduk di kursi  yang telah disediakan,tepatnya di pojok kanan paling belakang. Tak dinyana dan tak diduga, tiba-tiba “kyai” tadi duduk di samping Koplo dan Gembus. Bagi mereka, duduk bersanding dengan seorang ulama adalah suatu kebanggaan. Wuihhh…

Acara demi acara terlaksana. Setelah sambutan-sambutan, ternyata ada sebuah acara tradisi, yakni rayahan duit receh untuk anak-anak kecil. Dan tak disangka-sangka, tiba-tiba saja sang “kyai” yang sedari tadi duduk manis, ujug-ujug (tiba-tiba) meloncat-loncat kegirangan dan berlari menghambur ikut ngrayah (mengambili) duit bersama anak-anak kecil.

Sontak Koplo dan Gembus kaget bukan kepalang. “We lhadalah Mbus, tak kira iki mau kyai tenan je. Tiwas mundhuk-mundhuk, jebule wong ora genep. Isin aku ...” (arti: “Ya ampun Mbus, kukira orang itu kyai betulan. Sudah hormat sekali kita, ternyata orang gila. Malu aku…”) celetuk Koplo dengan nada kesal. Mereka pun ngakak bareng menertawakan diri sendiri. Wakakakakak…


BACA JUGA : Fakta Menarik Tentang Santri di Pesantren

KISAH KYAI KAMPUNG DI DPR

Setelah Orde Baru wassalam 1998, puluhan partai baru bermunculan seperti jamur di musim hujan. Orang-orang pesantren pun tidak ketinggalan. Nah salah satu partai yang didirikan oleh warga pesantren ternyata ikut-ikutan menang dan salah seorang “kiai kampung” (sebut saja begitu) terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Sebenarnya dia tidak seberapa sreg berada di dunia politik, akan tetapi demi menyampaikan ngaspirasi rakyat baiklah akhirnya dia bersedia.
Alkisah pada suatu saat terjadi sidang yang sangat alot. Sepertinya para anggota dewan sedang membahas masalah anggaran pendidikan. Kiai kampung tidak setuju dengan usulan mayoritas anggota DPR yang memberikan alokasi kecil untuk pendidikan, padahal pendidikan adalah prasyarat terpenting maju-mundurnya sebuah negara. Pendidikan yang dimasksud oleh kiai kampung tadi tentunya adalah pendidikan pesantren. Payahnya lagi, rekan-rekan satu partai pun berfikiran sama, mereka tidak memandang penting arti sebuah pendidikan. Sang kiai merasa sendirian di gedung milik rakyat itu.
Namun apa boleh dikata, kiai kampung sulit menyampaikan aspirasinya. Banyak peraturan di DPR yang sama sekali baru buatnya. Banyak sekali istilah-istilah aneh yang baru didengar. Sementara sang kiai, jangankan untuk ikut menyampaikan usulan, membaca draft undang-undang berbahasa Indonesia saja setengah berkeringat. Kiai kampung hanya mahir memahami teks Arab atau menuliskan sesuatu dengan huruf Arab.
Sidang terus berlangsung. Sang kiai kampung tidak bisa menahan diri akhirnya ia menuliskan beberapa kalimat berbahasa Indonesia dengan huruf arab (kita menyebutnya arab pegon). Dan sang kiai langsung maju ke depan menemui ketua sidang. Ruang sidang tiba-tiba sunyi senyap. Semua mata tertuju kepada kiai dan ketua sidang.
Kiai kampung langsung memberikan selembar kertas yang telah ditulisnya. Ketua sidang sebenarnya pernah belajar di pesantren kiai kampung tapi belum sampai mahir memahami tulisan Arab. Kertas tadi dia ambil lalu dimasukkan ke sakunya karena dia kira itu berisi doa atau sejenis jimat, lalu bicara, “Ini kiai kampung sebagai yang dituakan di partai anu telah menyetujui budget kita sekian agar tidak menganulir lainnya, buktinya beliau telah merestui saya.” Ketua sidang mengambil lagi kertas dari sakunya dan menunjukkan kepada para anggota sidang.
“Iya tapi saya tidak setuju kalau anggarannya segitu,” kata kiai kampung menyahut sambil berjalan ke tempat duduk semula, meskipun ia yakin tidak faham betul apa itu ‘budget sekian’ dan ‘menganulir’ yang dimaksud oleh ketua sidang.
Sidang lalu kembali ramai memperdebatkan soal angka. Waktu itu hampir disepakati besaran angka tertentu yang lebih tinggi dari semula. Namun kiai kampung tetap tidak puas dan dia langsung keluar sidang. Para anggota dewan pun terkejut.
“Kiai kampung walk out, kita tunda dulu sebentar,” kata ketua sidang sambil mengetuk palu. Beberapa orang mengikuti kiai tadi keluar ruangan termasuk ketua sidang tadi.
Sementara itu kiai kampung langsung bergegas ke musholla. Dia bercerita kepada rekannya yang lebih awal mengikutinya. “Saya ingin berdoa biar usulan saya dikabulkan oleh Allah,” katanya. Rekannya bertanya-tanya tapi mereka ikuti saja yang dilakukan kiai kampung.
Kiai kampung langsung bergegas melakukan sholat dua raka’at dan membaca doa istighothsah diikuti rekan-rekannya, termasuk ketua sidang tadi. Usai berdoa, kiai kampung sempat terkejut melihat ketua sidang, lalu berkata, “Alhamdulillah pak ketua sidang akhirnya setuju dengan usulan saya, buktinya dia ikut berdoa bersama kita. Sebagai wakil rakyat kita memang harus memandang arti pentingnya pendidikan,” katanya. Ketua sidang dan rekan-rekannya saling pandang, tapi akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa. Kiai kampung pun meneruskan taushiyahnya.



  ROKOK SANG KYAI
 
Di satu pesantren di Jombang, Jawa Timur, santri-santri dilarang merokok. Dan mbah kiai pengasuh pesantren tidak segan-segan memberikan takzir (hukuman) setimpal pada santri yang melanggar. Namun ada saja santri nakal yang melakukan pelanggaran.
Beberapa gelintir santri yang tidak tahan ingin merokok mencari-cari kesempatan di malam hari, pada saat gelap di sudut-sudut asrama atau di gang-gang kecilnya, atau di tempat jemuran pakaian atau di pekarangan kiai.Satu malam seorang santri perokok ingin melakukan aksinya. Ia bergegas ke kebun blimbing. Ia dekati seorang temannya di kejauhan sedang menyalakan rokok.
“Kang, join rokoknya ya…” katanya sambil menyodorkan jari tengah dan telunjukknya.
Temannya langsung menyerakan rokok yang dipegangnya.
Santri perokok langsung mengisapnya. “Alhamdulillah, nikmatnya…” katanya. Diteruskan dengan isapan kedua.
Rokok semakin menyala, dan… dalam gelap dengan bantuan nyala rokok itu lamat-lamat ia baru sadar siapa yang sedang dimintainya rokok. Namun santri belum yakin dan diteruskan dengan isapan ketiga… Rokok semakin meyala terang.
Ternyata… yang dia mintai rokok adalah kiainya sendiri.
Santri kaget dan ketakutan. Dia langsung kabur. Lari tunggal langgang tanpa sempat mengembalikan rokok yang dipinjamnya.
Sang kiai marah besar: “Hei rokok saya jangan dibawa, itu tinggal satu-satunya, kang…”

Saturday, 29 October 2016

Kyai Sodron VS Belahan Dada Wanita

Konon ada seorang Kyai ndeso bernama Sodron (Bukan nama sebenarnya) yang meskipun tidak memiliki banyak santri tapi cukup disegani dan dipandang punya kharisma setidaknya di lingkungan kampungnya (setiap ada kendurian dia suruh ngimami, kepepet kali..??)
Banyak sekali tamu yang sowan ke Kyai Sodron ini. Dari yang hanya sebatas tanya tentang masalah-masalah Agama, minta saran tentang menyikapi kerasnya kehidupan hingga minta do’a barokah dalam segala macam urusan, kelancaran berbisnis, naik jabatan terlebih saat berlangsungnya PILKADES, PILKADA, PILBUB dan PIL-PIL yang lain he..he..
Suatu hari Kyai ini didatangi oleh seorang tamu wanita muda, cantik, manis, anggun dan berpakaian sexy dengan baju berpotongan leher rendah sehingga (maaf) sebagian payudaranya bagian atas menyembul dan kelihatan dari luar (ngga banyak sich... tapi cukup menantang.. kembali lagi setidaknya menurut ukuran wong ndeso)
Setelah mempersilahkan masuk tamu wanitanya sang Kyai menyuruh salah seorang Khodam (santri yang biasa membantu urusan ndalemnya Kyai) membuatkan teh dan makanan ringan yang biasanya dihidangkan untuk para tamu, Kyai pun menemui dan njagongi tamu wanitanya yang dari raut wajahnya kelihatan sedang gundah gulana dan bermuram durja (kalau lagi seneng biasanya lupa silaturrahim ulama…. Hukum alam, dah biasa..)
“ Kyai.. Maksud kedatangan saya kemari pertama - tama mau silaturrahim, kedua saya ingin minta saran dari Kyai, saya sedang dalam masalah rumit kyai..?“ tutur tamu mulai mengungkapkan maksud kedatangannya.
“Sekiranya bisa, insya Alloh akan saya bantu,“ jawab Kyai seperti biasanya. “Monggo diceritakan masalahnya, Jeng.“
‘’Tapi maaf, Kyai. Untuk menceritakan saja saya nggak sanggup, Kyai. Terlalu berat rasanya.“ sambung wanita muda yang dari sudut matanya mulai terlihat berkaca - kaca.
“Insya Allah setiap masalah ada solusinya, monggo cerita. Yakinlah, Jeng.”
"Saya nggak kuat lagi, Kyai. Sudah nggak ada artinya lagi hidup ini buat saya, Kyai."
"Tenanglah, Jeng. Monggo diceritakan masalahnya, bagaimana saya bisa bantu kalau masalahnya saya nggak tahu, Jeng?"
Sambil sesekali mengusap air mata yang mulai jatuh dan sesenggukan karena menahan isak tangisnya wanita ini mulai bercerita, sementara Kyai mendengarkan dengan seksama sambil memejamkan mata seolah ikut larut dalam rangkaian kesedihan tamunya.
"Kyai, sudah dua tahun lalu saya menikah dengan lelaki pilihan saya, pernikahan kami berjalan begitu indah nyaris sempurna, tiada hari tanpa terlalui dengan kemesraan bersama, kami benar-benar bahagia, Kyai. Hingga seminggu yang lalu terjadi masalah dalam rumah tangga kami, Suami saya mulai bersikap aneh, dia sering nggak jujur dan pulang larut malam, puncaknya semalam kami bertengkar hebat dan dia bilang,...“ tanpa disadari wanita ini mulai menangis sejadi - jadinya, “Dia mau nikah lagi, Kyai. Aku ngga mau dimadu, aku ngga kuat, ngga mampu, aku cemburu“
Begitu mendengar akhir kisah wanita malang ini, sontak fikiran Kyai langsung hilang dia terjerembab kebelakang dan pingsan tak sadarkan diri. Sementara santri khodam yang baru masuk diruangan tamu terkejut lari tergopoh - gopoh begitu melihat Kyainya pingsan. Dia berusaha membangunkan Kyainya agar siuman, tapi percuma tak berhasil. Kemudian dia menoleh pada tamu wanita yang sedang menangis sejadi - jadinya dalam posisi merundukkan badan, santri khodam terkesima tak kuat melihat pemandangan yang terpampang didepan matanya, diapun langsung pingsan tepat berada diatas tubuh Kyainya.
Menyadari kehadirannya bikin banyak orang susah wanita muda ini pergi berlalu begitu saja tanpa kata.

"Kenapa, Kang? Tadi sampean kok pingsan?" tanya Kyai pada santrinya setelah mereka berdua siuman.
"Anu Kyai, itu lo anu.“ Santri khodam nggak mampu menjawab malah memerah wajahnya.
‘‘Anu apa..? Itu apa..?“ desak Kyai.
"Ngapunten'e, Kyai. Seumur - umur saya belum pernah lihat yang kayak begini, Kyai.” jawab santri malu - malu.
“Lihat apa? “
“Tadi waktu perempuan itu nangis tanpa sadar badannya merunduk, dan tanpa sadar pula mata saya tertuju pada belahan dadanya, saya ngga kuat melihatnya langsung pingsan, Kyai“ jawab santri dengan begitu polosnya dan tampak tersipu.
“Ha..ha..ha... Hoalah, Kang.. Kang.. Kamu kok yo bisa - bisanya memanfaatkan kesempatan dalam kesusahan orang. Ha..ha..ha…” Kyai tak henti - hentinya tertawa terbahak - bahak mendengar kepolosan santrinya.
“Sepindah maleh, ngapunten'e Kyai. Lha Kyai sendiri kok juga pingsan? Apa juga karena melihat seperti yang saya lihat?” Tanya santri memberanikan diri.
"Ha..ha..ha.. Ada - ada saja kamu.”
“Lha kenapa, Kyai?”
“Kang, wanita tadi bercerita kalau sama suaminya dia mau dimadu, dia sedang susah, dia sedang dilanda cemburu. Padahal,... (diam sejenak) Rasulullah saw bersabda, ”Tidak ada satu pun yang lebih cemburu daripada Allah” (H.R. Bukhari dan Muslim). Sementara dalam kehidupan ini aku sendiri masih sering membuat Allah cemburu dengan menyayangi dan mencintai sesuatu yang melebihi rasa sayang dan rasa cintaku kepada Allah.” jawab Kyai menjelaskan kenapa dia pingsan.
Si Santri pun manggut manggut tanda paham.